Sunday, April 19, 2020

Add caption


Menyimak kembali Proyek Revitalisasi Danau Ayamaru di tengah bayangan Pandemi COVID - 19 

Sumber Foto : Facebook
Setelah menyimak proyek revitalisasi danau yang telah dieksekusi oleh PUPR dalam bentuk proyek bendungan, yang mana  proyek dikerjakan sekitar 7 bulan lalu di Semtue sebagai pintu danau satu danau Ayamaru. Menurut salah satu sumber berita tahap I pengerjaan proyek ini sudah rampung 70% dan selesai Desember 2019 menurut Ka. Balai Sungai Papua Barat Alex Leda, ST.
Kami dari kalangan pemerhati lingkungan, mahasiswa dan berbagai elemen sejak awal melakukan berbagai kritik, protes dan edukasi lewat media, seminar, diskusi, pameran dan lain-lain namun tidak digubris oleh pemangku kebijakan di Maybrat dalam hal ini pemerintah setempat.
Add caption
Dengan menyadari bahwa harapan masyarakat Maybrat untuk mengembalikan danau Ayamaru seperti semula bisa dapat terwujud melalui proyek yang mereka banggakan ini, namun seiring dengan berjalannya waktu masa pengerjaan megaproyek bendungan danau Ayamaru ini apakah sudah selesai? Apakah sesuai dengan harapan masyarakat Maybrat yang selama ini dicita-citakan?. Dengan adanya Pandemi COVID 19 yang mengancam kesehatan populasi dunia menuntut pemerintah untuk mengarahkan semua kemampuannya untuk mencegah kematian akibat penyakit ini. Presiden Jokowi menekankan refocusing anggaran pemerintah daerah ke penanganan wabah. Alokasi yang tidak penting untuk proyek infrastruktur, belanja pegawai, termasuk DAK dan DAU dihentikan untuk penangan COVID 19.

Dengan kondisi seperti ini sudah pasti nasib proyek bendungan danau Ayamaru bisa suram dan menjadi proyek gagal. Ketika proyek ini gagal maka kami sebagai orang Maybrat telah meninggalkan sebuah luka yang kronis terhadap alam danau Ayamaru dengan sebuah bendungan tanpa fungsi alias cacat. Lantas siapa yang harus disalahkan kalau proyek ini gagal? pemerintah, masyarakat pemilik hak ulayat setempat? atau  kontraktor pelaksana? mari kita renungkan bersama.
Dengan tulisan ini kami mengajak semua masyarakat Maybrat untuk memantau kembali proyek ini di tengah situasi Wabah Covid 19.

Kita harus lebih peka terhadap fenomena alam yang terjadi. Refleksi kita adalah yang kita buat selama ini ke alam Maybrat adalah hanya merupakan suatu kerusakan dan bencana bagi alam kita sehingga kita harus mengintrospeksi diri atas kesalahan-kesalahan kita yang selalu angkuh, egois terhadap sesama, alam dan Tuhan seperti kecongkakan manusia di Alkitab ketika mendirikan menara setinggi langit namun gagal total. Kita lupa siapa dan dari mana kita berasal? Dari alam ini sudah, alam Maybrat yang mengangkat jati diri kita.
Salam lestari Save Ayamaru Lakes (SAL)

Sumber Foto: Facebook
Penulis MLS

No comments:

Post a Comment